Listen to this article

Jakarta –  “Pembangunan Untuk Perubahan”  Dalam setiap perkembangan jaman tentunya kita dihadapkan kepada permasalahan dan tantangan serta harapan baru. Kesemuanya itu adalah sebuah sunatullah yang harus kita sikapi dengan optimisme dan sikap juang yang selalu tertanam dalam raga kita.  Kemajuan suatu kaum sangatlah ditentukan oleh keilmuan dan keahlian yang dimilikinya. Mempercayakan kepada ahlinya adalah bentuk tanggungjawab kita kepada masa depan anak cucu kita.

PENDAHULUAN

Secara  geografis Kabupaten Tulang Bawang  yang merupakan bagian dari Provinsi Lampung berbatasan dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat sebelah barat, Kabupaten Mesuji sebelah utara, Kabupaten Lampung Tengah sebelah selatan dan sebelah timur Laut  Jawa.

Jika kita memandang akan terlihat sungai tulang bawang yang elok membelah Kabupaten Tulang Bawang. Seakan memberikan inspirasi ke kita bahwa Kabupaten Tulang Bawang adalah wilayah daratan yang  hijau dan memiliki potensi alam yang sangat kaya. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tulang Bawang adalah wilayah agraris. Dengan sektor pertanian sebagai mata pencaharian mayoritas penduduknya sebanyak 125.000 jiwa. Baik pertanian sawah, lahan kering ataupun perkebunan. Disini kita bisa analisa awal bahwa Kabupaten Tulang Bawang adalah wilayah yang subur dan memiliki potensi pengembangan sektor agro  sebagai pokok nadi pergerakan ekonomi wilayahnya.

Dengan jumlah penduduk 400.000 jiwa dan luas wilayah 346.632 hektar  tentunya dibutuhkan sebuah motor penggerak yang selalu waktu tercurah untuk fokus dan terencana dalam mengatasi segala permasalahan dan tantangan serta memberikan solusi  sesuai apa yang diharapkan dan tentunya sebuah kewajiban konstitusional yang menjadi landasan pola pikirnya. Eksistensi sumber daya manusia Kabupaten Tulang Bawang yang handal haruslah menjadi motor penggerak utama. Karena pada dasarnya pembangunan itu adalah dari, oleh dan untuk mereka sendiri. Keberadaan potensi Sumber Daya Alam dan keberadaan Sektor Industri didalamnya haruslah  dikelola secara maksimal dan professional untuk memberikan umpan balik yang positif dalam membangun kemandirian daerah. Ironis sekali bila keberadaan potensi untuk kemajuan dan kemandirian tersebut kita sia-siakan dan kesampingkan begitu saja.

Membangun DAERAH UNTUK kemajuan DAN KESEJAHTERAAN adalah  harapan baru 

POTENSI KEKUATAN WILAYAH

Sumber utama penggerak rodaperekonomian Kabupaten Tulang Bawang adalah pendapatan masyarakat yang bersumber dari pertanian lahan sawah, lahan kering dan perkebunan serta perikanan. Dengan adanya sektor industri dibidang tersebut selama ini di Kabupaten Tulang Bawang menggambarkan minat para investor yang melihat potensi ekonomi yang dimiliki oleh Kabupaten Tulang Bawang. Disinilah peran dan keberadaan Pemerintahan Daerah yang kuat dan professional sangat diharapkan. Hal ini sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Pemeritah Daerah untuk memberikan pelayanan yang maksimal untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan. Sebagaimana diketahui produksi komoditi padi, ubi kayu, karet, kelapa sawit dan tambak udang adalah produk unggulan Kabupaten Tulang Bawang. Dengan produksi 400.000 ton padi per tahun dan 500.000 ton ubi kayu per tahun atau setara dengan nilai ekonomi  sebesar Rp. 2,3 Triliun per tahun. Nilai tersebut menggambarkan  kekuatan ketahanan pangan yang sangat besar untuk wilayah yang berpenduduk 400.000 jiwa ini (data BPS tahun 2018). Disamping produksi komoditi di atas, produksi karet, kelapa sawit dan perikanan tambak merupakan kekayaan Kabupaten Tulang Bawang yang bernilai tinggi apabila dikelola secara baik akan menjadi roda utama penggerak kesejahteraan rakyat kabupaten Tulang Bawang.

Baca Juga Berita  Sulpakar Lakukan Monitoring di Pelayanan Disdukcapil Lamsel

Sebagai penopang sektor pertaniaan tersebut tentunya keberadaan pemerintah Daerah dalam menyediakan pelayanan bidang infrastruktur jalan, irigasi dan komponen pendukung produksi baik secara kelembagaan (BUMD, Koperasi) dan ketersediaan pergudangan dan mesin tepat guna sebuat langkah tepat dalam meningkatkan pendapatan masyarakat Kabupaten Tulang Bawang pada sektor pertanian. Dengan naiknya pendapatan masyarakat sektor pertanian akan meningkatkan daya beli dan efek multifliernya adalah peningkatan ekonomi masyarakat sektor lainnya yaitu bidang industri dan jasa.

Dengan kondisi infrastruktur yang baik tentunya akan lebih meningkatkan daya saing komoditi dan meningkatkan minat kegiatan perekonomian wilayah. Sehingga keberadaan infrastruktur jalan dan irigasi teknis untuk peningkatan atau intensifikasi sektor pertanian tentunya sebuah kebutuhan yang realiable saat ini. Dengan sumbangan 40% sektor pertanian pada PDRB Kabupaten Tulang Bawang adalah capaian kekuatan ekonomi lokal yang menggambarkan kekayaan yang dimiliki jangan sampai diambil oleh pihak luar Kabupaten Tulang Bawang. Ironis sekali bila rakyat mati dan kelaparan di dalam lumbung pangan yang berlimpah ruah.

MEMBANGUN STRATEGI BARU PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN

Sektor utama dalam perekonomian Tulang Bawang adalah sektor pertanian. Kontribusi sektor ini pada tahun 2017 mencapai hampir 40 persen (39,53%).  Namun demikian, peran sektor pertanian terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, kontribusinya berada di atas 40 persen (42,01%), namun karena pertumbuhannya sangat lambat (hanya 1 hingga 3 persen) maka kontribusi sektor ini semakin tergerus. Hal ini paradoks jika kita bandingkan dengan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian. Mengacu pada hasil publikasi BPS pada beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa persentase pekerja yang bergelut di sektor pertanian mengalami peningkatan, dari 54% pada tahun 2015 menjadi sekitar 60 persen pada tahun 2017.

Secara sederhana, fenomena di atas menunjukkan bahwa penghasilan pekerja di sektor pertanian cenderung mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi karena nilai tambah di sektor pertanian tidak mengalami kenaikan yang berarti (bahkan kontribusinya semakin menurun), sedangkan pekerja yang menggeluti sektor pertanian semakin banyak.

 

Apa implikasi dari kondisi ini ?

Kondisi ini dapat kita hubungkan dengan tingkat kemiskinan di Kabupaten Tulang Bawang. Data menunjukkan bahwa dalam periode 2013 hingga 2016 persentase penduduk miskin dan jumlah penduduk miskin terus mengalami  peningkatan. Pada tahun 2017 memang terjadi penurunan persentase penduduk miskin, namun tidak dengan jumlah penduduk miskin. Jumlah penduduk miskin tetap mengalami kenaikan.

Banyak studi memperlihatkan bahwa sebagian besar penduduk miskin bekerja di sektor pertanian. Kondisi seperti ini juga dapat kita temukan di Tulang Bawang. Sehingga patut diduga, peningkatan jumlah penduduk miskin ini sangat terkait dengan rendahnya pertumbuhan sektor pertanian. Oleh karena itu pengembangan nilai tambah pertanian menjadi salah satu kata kunci dalam menurunkan kemiskinan sekaligus pengembangan perekonomian Tulang Bawang.

Apa yang bisa dilakukan ?

Di setiap daerah yang memiliki karakteristik sama dengan Kabupaten Tulang Bawang sebagai daerah agraris permasalahan yang dihadapi dalam upaya keluar dari jeratan kemiskinan (Poverty Trap) ini adalah visi kita dalam menempatkan dan memposisikan sektor pertanian sebagai alternatif pilihan pekerjaan. Hal tersebut bisa dilihat dari struktur tenaga kerja yang terlibat di sektor tersebut yang didominasi oleh kaum tua atau masyarakat berpendidikan menengah ke bawah.

Baca Juga Berita  Bupati Pringsewu Lakukan Impounding Bendungan Way Sekampung

Untuk menjadikan sektor pertanian sebagai sektor bisnis yang menjanjikan diperlukan sebuah konsep pembangunan pertanian yang terkoneksi dengan sektor industri turunan. Sehingga apa yang diistilahkan sektor “Hulu-Hilir” adalah sebuah konsep bisnis saling menguntungkan, bukan saling melemahkan atau saling bersaing tidak sehat. Selama ini sektor pertanian ditempatkan hanya sebagai sektor produksi bahan baku. Yang ditekan sedemikian rupa agar harga raw material yang dihasilkan semurah mungkin dengan berbagai pola seperti program subsidi dan bantuan lainya (alat mesin pertanian, bibit dan lain lain). Kebijakan ini malah menempatkan kaum petani termajinalkan kedalam kelompok masyarakat miskin. Terobosan baru adalah keterikatan bisnis atau kontrak kerjasama dimana petani kedepan adalah “Pemegang Saham” perusahaan industri olahan berbasis komoditi pangan dan pertanian. Dimana pengembangan Bank Komoditi melalui Pembentukan BUMD dan BUMDes sebagai Officer Legal para petani. Dengan ini kelas petani bukan lagi kaum buruh kelas bawah. Peningkatan kelas buruh tani ke kelas pemilik modal sangat memerlukan kemauan politik pemerintah.

Keberadaan pemerintah tentu bukan hanya sebagai pelayanan semata, dikarenakan anggaran yang dikeluarkan haruslah memiliki akuntabilitas dan nilai azas kemanfaatan dan output hasil yang akan mendongkrak nilai tingkat kinerja pemerintahan. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: a) perbaikan rantai pasok dari input pertanian; b) peningkatan produktivitas pertanian; c) pemenuhan saprodi yang relevan; d) penanganan pasca panen; e) jaminan pemasaran. Tentu juga tidak terlepas dari penyediaan infrastruktur yang baik menjangkau dan menghubungkan lokasi produksi ke industri. Dari total sekitar 1 juta km panjang jalan kabupaten di Tulang Bawang, lebih dari separuhnya berada dalam kondisi rusak dan rusak berat. Dari sinilah dapat terpetakan posisi dan peran Pemerintah, Petani dan Sektor Insustri/Swasta. Pola kerjasama ketiganya kalaulah dituangkan dalam konsep bisnis, tentunya akan menaikan minat generasi muda untuk terjun kedalam bisnis sektor pertanian. Pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan kelas buruh kedalam kelas ekonomi menengah dan tinggi.

Mengapa perbaikan harus dilakukan ?

Tentunya untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Namun ada hal lain yang juga menarik. Jika kita cermati informasi migrasi di Kabupaten Tulang Bawang, ternyata migran yang keluar dari Tulang Bawang jumlahnya lebih banyak daripada migran masuk. Ini sebagai salah satu indikasi yang menunjukkan masyarakat tidak/kurang puas terhadap kondisi Kabupaten Tulang Bawang. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka fenomena backwash pembangunan akan terjadi. Dalam kondisi yang lebih kronis, hal ini akan mendorong tergerusnya modal pembangunan di Kabupaten Tulang Bawang.

Setelah pertanian apa lagi ?

Sektor kedua yang juga berperan besar terhadap perekonomian Tulang Bawang adalah sektor industri pengolahan, dengan kontribusi sekitar 22 persen pada tahun 2017. Menariknya, pertumbuhan sektor industri ini terus mengalami peningkatan, sehingga kontribusinya dalam perekonomian juga semakin menguat. Namun, nampaknya perkembangan sector industri ini belum terkait dengan sektor pertanian (indikasinya, pertumbuhan tinggi di sektor industri tidak diikuti oleh pertumbuhan yang tinggi juga di sektor pertanian). Melihat hal ini, maka meningkatkan konektivitas sektor industri dengan sektor pertanian akan menjadi strategi ampuh dalam pengembangan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tulang Bawang.

“Berjuang untuk Kemajuan Bangsa”

Penulis : Perencana Madya Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here